Make your own free website on Tripod.com

 

CINTA HAKIKI

(bagian pertama)

 

Telah lama cinta terbiar,

Dari cinta yang suci

Telah lama cinta tersasar,

Dari cinta hakiki………

 

("Cinta Hakiki" by Raihan)

yair nasyid di atas sekilas tampak tak bermakna, bagai syair-syair kacangan. Tapi bila kita mau melihat dan merenungi makna dan maksudnya, mungkin kita akan tersadar, akan kembali ke cinta hakiki yang dituntunkan di dalam pusaka kita, Qur’an dan Sunnah. Cinta yang akan me-nuntun kita kepada keridhaan-Nya, cinta yang akan menuntun kita mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

***

Memang kisah asmara telah ada saja nenek moyang manusia diciptakan untuk pertama kalinya. Yang pada saat itu pun mampu menumbangkan titah Ilahi yang mencucurkan nik-mat itu sendiri. Cinta, lima huruf yang penuh misteri. Dan itu suatu nikmat, bukan bencana hingga turunnya laknat. Tetapi dengannya dapat pula kita memancing kebangkitan murka Allah, hingga dunia resah, gelisah, dan bertanya-tanya.

Sebenarnya jalan Ilahi telah ada, hanya saja mata ha-ti, jiwa dan raga kita telah terkunci mati. Kuno, monoton, lam-ban, kesan itu yang selalu didengung-dengungkan terhadap kalam Allah dan sabda Nabi yang lurus. Memang bukan jalan yang mendongengkan dua sejoli yang memadu kasih atau mendendangkan ikrar janji "sehidup semati dua ekor merpati". Melainkan jalan yang mampu menaikkan jenjang kerohanian hingga tergapainya keridhaan Ilahi. Memang ke-ridhaan Ilahi adalah target yang ingin dicapai oleh orang-orang yang berilmu dan beriman.

Sebelum membahas lebih jauh mari kita cermati apa yang dimaksud dengan cinta. Cinta (al mahabbah) menurut Ibnu Qayim bila dilihat dari akar katanya berasal dari kata al habbab, yang berarti air yang meluap. Maksudnya luapan dan gejolak hati di saat bertemu dengan "kekasih". Selain al habbab, mahabah juga berasal dari kata al habu (bejana), yang berarti siap menampung beban dan keinginan "sang kekasih".

Selain itu telah sepakat pula para ahli ilmu penge-tahuan, perasaan cinta itu adalah kesenangan jiwa, hiburan kalbu, membersihkan akal dan menghilangkan kegundahan. Pengaruhnya mengelokkan rupa, memaniskan kata-kata, me-numbuhkan akhlak yang mulia, meninggikan cita-cita, men-datangkan kelegaan, memperindah pergaulan, adab dan ke-manusiaan. Cinta adalah medan cobaan orang-orang shalihin, hobi ahli-ahli ibadah, neraca akal, mengencerkan otak, dan watak orang-orang mulia.

Beberapa ahli sastra mengatakan, bahwa cinta men-jadikan seorang yang pengecut berani, yang bakhil jadi pen-derma, menjadikan si bodoh pintar, memfasihkan lidah, mem-pertajam pena si pengarang, menguatkan si lemah, dapat melemahkan raja yang kuat, menyebabkan seseorang berani menentang si pemberani, mencerdikkan dan mencerdaskan, mendatangkan kegembiraan di dalam jiwa dan kesenangan di dalam hati.

Pernah disampaikan kepada salah seorang pembesar, anaknya sudah jatuh cinta. Pembesar itu gembira dan berkata "Alhamdulillah, tentu akan berkurang liarnya, halus perasaan-nya, indah gerak-geriknya, bertambah baik ibadahnya, tentu ia akan menyukai keindahan dan akan membenci keburukan."

Pernah pula ditanyakan kepada Abu Nufal "Adakah seseorang yang tak pernah mengalami cinta?". Dijawabnya, "Ada, yaitu orang yang kesat, sesat, kasar, tak mempunyai perangai dan pengertian. Adapun orang-orang yang mempu-nyai karakter yang halus seperti penduduk Hijaz dan kelin-cahan seperti penduduk Irak, pasti pernah merasakan cinta asmara itu."

Berkata Ali bin Abduh "Tidak seorangpun kosong dari perasaan cinta, kecuali orang-orang yang cacat jiwanya, yaitu orang-orang yang tak waras."

Bahkan menurut empat orang pemuda yang tersohor sejak tahun 60-an, yang terkenal dengan syair-syairnya yang dahsyat, cinta itu tidak hanya didasarkan perasaan suka akan sesuatu karena hal-hal yang berwujud fisik semata, tetapi sungguh-sungguh karena perasaan cinta yang didasari oleh hati yang ikhlas dan suci. Cinta bukan hanya merupakan pera-saan ingin memiliki sesuatu yang kita cintai, tetapi cinta meru-pakan perasaan membutuhkan yang kita cintai.

Demikianlah sekilas mengenai pengertian cinta. Ter-serah kita mau memilih pengertian yang mana, ataukah kita mempunyai pengertian sendiri. Sekalipun cinta mempunyai kedudukan yang tinggi dan agung, tetapi disekelilingnya ter-dapat banyak bahaya, dan seringkali orang yang sedang jatuh cinta itu menghadapi kepedihan dan kenistaan. Cinta dapat pula menumbuhkan kebencian, terutama cinta yang dipahami secara dangkal atau sesat. Karenanya marilah kita pahami makna cinta itu sesungguhnya. Sebab itulah syariat Islam me-mentingkan masalah ini dengan menunjukkan bahaya-bahaya dan dosa-dosanya, di samping menunjukkan kebaikan dan buahnya. Sudahkah kita memahami ajaran dan hal yang mulia ini?

***

Cinta di dalam Islam bukan merupakan hal yang tabu dan asing. Bahkan cinta merupakan bagian dari ajaran Islam, bagian dari keluhuran dan kemuliaannya. Karena Islam meru-pakan agama yang mengatur segala perikehidupan secara lengkap. Karena hidup tanpa cinta ibarat sayur tanpa garam, hambar. Bukankah nama masyarakat Islam dibangun di atas cinta. Rasulullah saw pernah bersabda, "Cintailah bagi sau-daramu sesuatu yang kau cintai untuk dirimu sendiri." Jadi salah dan ngawur bila dikatakan cinta tidak diatur di dalam Islam.

Bahkan di dalam beberapa ayat Qur’an dan hadits dijelaskan tentang keutamaan cinta, pelaksanaan, implemen-tasi, dan beberapa pembagian serta tahapan-tahapan cinta. Terutama pula bila kita mempelajari dan memahami tentang al wala wal bara’, di sana banyak pula disinggung-singgung ten-tang cinta-cinta yang diperkenankan di dalam Islam, cinta yang hakiki.

Cinta memiliki beberapa keutamaan di dalam ajaran Islam. Rasulullah pernah bersabda di dalam salah satu hadits riwayat Ahmad bahwa tali ikatan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Bahkan dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Hajar dan Ibnu Abas, Rasulullah saw bersabda bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah dan bermusuhan karena Allah, maka sesungguhnya ia hanya akan mendapatkan walayatullah (perwalian dari Allah) dengan hal itu.

Cinta ternyata merupakan salah satu sarana dan se-bab utama yang menyebabkan hati kita bisa merasakan ma-nisnya iman. Sebagaimana salah satu sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

" Ada tiga perkara yang jika seseorang mendapatkannya dalam dirinya, niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman. Hen-daklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada dirinya sen-diri, hendaklah ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan hendaklah ia benci pada kekufuran sebagaimana bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka setelah Allah menyelamatkan diri-nya."(HR. Muttafaq Alaihi)

Cinta pulalah salah satu penyempurna keimanan. Ra-sulullah saw bersabda:

" …barang siapa yang mencintai karena Allah dan mem-benci karena Allah, memberi karena Allah dan mencegah (pemberi-an) karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan iman." (Hadits Hasan, Ahmad dan Tirmidzi)

Dari beberapa hadits di atas dapat diketahui bahwa Islam merupakan bagian dari penyusun kemuliaan dan ke-agungan Islam. Ternyata banyak pula keutamaan yang ada di dalamnya. Ternyata semua cinta harus bersumber pada cinta nan hakiki, cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Cinta dan keikh-lasan pula yang menumbuhkan semangat juang, keistime-waan, dan keutamaan para sahabat dan umat terdahulu ter-catat dalam perjalanan sejarah Islam dan peradaban dunia, serta menjadi sumber suri teladan bagi seluruh ummat ma-nusia.

Setelah mengetahui makna dan keutamaannya, ada-kah keinginan kita untuk mencapainya. Ataukah kita masih te-tap bersikeras dengan pengertian cinta yang justru menje-rumuskan kita mendekati zinah. Padahal mendekati zinah, apalagi melakukannya, merupakan hal yang dibenci Dzat yang kita harapkan cintanya (QS. Al Isra: 32).

***

Perlu kita sadari pula bahwa cinta merupakan suatu proses. Cinta tidak akan muncul begitu saja. Pasti ada sesu-atu yang menyebabkannya muncul. Secara garis besar ada dua hal yang mendorong tumbuhnya cinta. Dorongan pertama adalah dorongan syahwat, sedangkan dorongan kedua adalah dorongan hati.

Dorongan syahwat mungkin merupakan dorongan pertama yang menyebabkan kita mengatakan bahwa kita mencintai sesuatu. Dorongan ini timbul dari nafsu dan ber-orientasi pada hal-hal yang bersifat fisik semata. Dorongan ini yang menyebabkan kita mengatakan cinta padahal kita hanya ingin memiliki atau menikmati belaka. Karena hanya dilandasi nafsu, cinta ini bersifat fana. Cinta seperti inilah yang selama ini selalu membuai manusia. Cinta semacam ini selalu menim-bulkan kekecewaan, karena sering berubah tak menentu. Cin-ta semacam ini bagai pasir pantai yang dipermainkan deburan ombak.

Dorongan yang kedua adalah dorongan yang timbul dari hati, hati yang jernih tentunya. Cinta yang tumbuh meru-pakan cinta yang hakiki. Cinta yang muncul akan menuntun kita kepada cinta sejati, cinta yang membawa kebahagiaan dunia akhirat. Cinta yang timbul akan menumbuhkan keikh-lasan ‘tuk kasihi sesama. Cinta semacam inilah yang akan membawa kita tenang di kala susah, tiada kekecewaan yang kita rasakan. Semuanya disebabkan cinta semacam ini ber-sumber dari cinta kepada Allah.

Selanjutnya terserah kepada masing- masing diri kita untuk memilih dan mendefinisikan cinta yang kita rasakan. Terserah kepada kita untuk memilih cara menerapkan dan menunjukkan cinta yang kita rasakan, yang jelas jangan sam-pai kita menghambakan diri kepada sesuatu yang kita cintai, kecuali kepada Allah. Jangan sampai pula dalam menerapkan cinta di antara dua pasang insan, kita terjerumus untuk men-dekati zinah apalagi melakukannya (silakan buka QS. Al Israa:32).

***

 

[Abdullah Lennono]

 

 

 

<<  back to ISHLAH