Make your own free website on Tripod.com

 

QURBAN

 

ekali dalam setahun hitungan bulan Qamariyah, kita akan menemui sebuah hari besar yaitu Idul adha. Hari tersebut dinamai hari besar karena beberapa sebab. Pada hari itu kita melakukan shalat sunat Idul Adha. Saat itu bertepatan pula dengan ditunaikannya ibadah haji oleh berjuta umat muslim. Saat itu pula untuk menyenangkan hati masyarakat –terutama yang berhak- dibagi-bagikanlah daging hasil penyembelihan hewan kurban. Bahkan pada ma-sa Rasulullah dahulu, hari raya Idul Adha ini sangat semarak melebihi semaraknya hari raya Idul Fitri.

Namun, dari semua event yang ada pada saat hari ra-ya Idul Adha tersebut, ibdah qurban-lah yang paling menonjol. Hampir setiap muslim yang berkemampuan melaksanakan-nya, entah secara perorangan ataupun berkelompok. Di seko-lah-sekolah pun diadakan penyembelihan hewan qurban se-bagai suatu sarana untuk mendidik siswa.

Qurban secara bahasa berarti mendekat/pendekatan. Sedangkan pengertianya menurut agama adalah usaha pen-dekatan diri seseorang hamba kepada Penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan de-ngan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. Berdasar-kan firman Allah:

 

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari sa-lah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil):Äku pasti membu-nuhmu!". Berkata Habil:"Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa." (QS Al Maidah: 27)

Telah kita ketahui bahwa ibadah qurban ini ada sejak zaman Nabi Adam. Qurban pertama kali adalah dari kedua putera Nabi Adam dan hanya diterima salah satu dari kedua-nya. Ibadah kurban yang dilakukan umat Islam merupakan millah dari Nabi Ibrhaim a.s. Jalannya peristiwa ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail a.s. dapat kita simak pada Al Qurán surat Ash-Shaffat:102-110.

Banyak makna yang dapat diambil dari ibadah qurban ini, baik secara ruhiyah ataupun secara kemasyarakatan. Se-cara ruhiyah ibadah qurban akan meningkatkan kesadaran ri-tual dari para pelakunya. Secara sosial, ibadah qurban akan bermakna apabila kerelaan dan keikhlasan orang-orang yang melaksanakan qurban berimbas pada perilaku keseharian dan perhatiaannya pada sesama.

Tujuan ibadah qurban bagi umat islam adalah sema-ta-mata mencari ridla Allah. Ibadah qurban ini dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal ketaqwaan kepada Allah. Yang menjadi penilaian Allah adalah nilai ketaqwaan dari o-rang yang berqurban. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam fir-man-Nya:

 

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali ti-dak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS Al Hajj:37).

Hal ini pulalah yang menjadi sebab tertolaknya qurban salah seorang dari kedua putera Nabi Adam a.s dan diterima-Nya qurban yang lain.

Bukanlah suatu nilai yang tinggi di mata Allah, qurban yang banyak tetapi tanpa keikhlasan dan ketakwaan orang yang berqurban.

Mungkin bagi kita sebagai manusia, kita cenderung melihat sesuatu dari kenampakannya. Begitu pula cara kita menilai ibdah qurban. Ketika kita melihat seseorang berqur-ban dengan seekor kambing, jkita menganggapnya remeh. Kita lebih memandang besar kepada orang yang berqurban dengan seekor sapi yang gemuk. Padahal belum tentu penilai-an kita benar. Sebenar-benar penilai hanyalah Allah. Mungkin saja di mata Allah lebih tinggi nilai seekor kambing tadi karena taqwa di hati orang yang berqurban. Jadi tak ada yang meng-halangi seseorang untuk berqurban sedikit jika disertai hati yang suci, taqwa dan ikhlas. Dan tidak ada kepastian diterma-nya qurban yang banyak dari seseorang tanpa ketaqwaan.

Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk mem-bentuk yang penuh toleransi, selalu kasih sayang, serasi dan jauh dari keegoisan. Hubungan yang baik akan terjalin antara yang kaya dan yang miskin. Setidaknya selama be-berapa hari tersebut orang-orang yang miskin akan merasakan kesena-ngan. Kalau saja hal itu bisa berlangsung terus –setidaknya untuk kebutuhan pokok- tentu tingkat kemiskinan di masya-rakat kita akan sangat kecil. Di dalam masyarakat akan tercip-ta ketenangan dan ketentraman karena tidak ada lagi perbe-daan status/ keadaan hidup yang mencolok.

Sikap pengorbanan yang tumbuh dalam pelaksaanaan ibdah qurban itu akan mengikis sikap egois dan kikir. Berku-rangnya –atau bahkan hilangnya- sikap egois dan kikir itu akan berpengaruh baik bagi kehidupan dan penghidupan orang itu sendiri dan masyarakat luas.

Ibadah qurban juga bisa menjadi sarana untuk me-ndekatkan orang lain yang tidak berqurban kepada Allah. Ha-sil sembelihan bisa kita bagikan kepada orang-orang yang ba-ru masuk Islam dan juga kepada mereka yang rawan terpe-ngaruh agama lain. Maksudnya adalah untuk menyenangkan hati mereka sehingga mereka lebih cenderung kepada Islam. Orang-orang yang masih lemah imannya adalah tanggungan kita bersama bahkan mereka pun menjadi bagian dari para mustahiq –penerima zakat.

 

Terang sudah bagi kita betapa besar dan indahnya akibat yang ditimbulkan oleh ibdah qurban yang benar-benar ber-nilai. Bukan saja secara spiritual tapi juga sosial, bukan hanya perorangan tapi juga masyarakat. Rasanya sebagian dari ke-hidupan yang kita inginkan bisa kita capai dengan melaksa-nakan ibdah qurban. Yang lebih penting lagi adalah upaya kita untuk mempertahankan nilai pengorbanan kita, yaitu agar kita menjadi dekat kepada Allah sehingga tidak ada batas an-tara kita dengan-Nya.

[Nila Cahyawati]

 

 

 

<<  back to ISHLAH